Showing posts with label BAB - 06. Show all posts
Showing posts with label BAB - 06. Show all posts

6.1. CERITA GARANIQ

BAGIAN KEENAM
CERITA GARANIQ
[Tulisan 1 Dari 5]


Highlight:
  • Kembalinya mereka yang hijrah ke Abisinia 
  • Gharaniq yang luhur  
  • Orientalis-orientalis bertahan pada cerita ini -
  • Pegangan mereka dalam hal ini 
  • Lemahnya pegangan tersebut 
  • Cerita yang nyata-nyata dusta ini dibantah oleh penyelidikan ilmiah 
KAUM Muslimin yang hijrah ke Abisinia tinggal selama tiga bulan di sana. Sementara itu Umar ibn’l-Khattab sudah pula masuk Islam. Setelah para pengungsi ini mengetahui bahwa pihak Quraisy sudah mulai surut dari mengganggu Muhammad dan pengikut-pengikutnya - setelah Umar masuk Islam - menurut sebuah sumber, banyak diantara mereka itu yang kembali, dan sumber lain mengatakan semua mereka itu kembali ke Mekah. Tetapi setelah mereka sampai di Mekah, ternyata pihak Quraisy kembali menyiksa kaum Muslimin, bahkan lebih keras lagi dari pada yang pernah dialami kaum pengungsi itu dulu. Sebahagian mereka ada yang kembali ke Abisinia, ada pula yang memasuki Mekah atau di dekat-dekatnya dengan sembunyi-sembunyi. Konon katanya, bahwa mereka yang kembali itu membawa pula sejumlah kaum Muslimin dan mereka ini tinggal di Abisinia sampai sesudah Hijrah dan sesudah keadaan Muslimin di Medinah jadi lebih stabil.

Apa pula motif yang mendorong kaum Muslimin di Abisinia itu kembali sesudah tiga bulan mereka tinggal di sana? Di sinilah munculnya cerita gharaniq itu yang dilangsir oleh Ibn Sa’d dalam At-Tabaqat’l-Kubra dan oleh At-Tabari dalam Tarikh’r-Rusul-wal-Muluk, yang juga sama dilangsir oleh ahli-ahli tafsir kalangan Muslimin dan penulis-penulis sejarah Nabi, dan lalu diambil pula oleh sekelompok Orientalis-orientalis yang dalam sekian lama oleh mereka tetap dipertahankan.

Adapun timbulnya cerita gharaniq itu ialah, setelah Muhammad melihat pihak Quraisy menjauhinya dan sahabat-sahabatnya di siksa. Ia berharap-harap sambil mengatakan: Coba aku tidak mendapat perintah apa-apa yang kiranya akan menjauhkan mereka dari aku. Ia mengumpulkan golongannya dan mereka bersama-sama pada suatu hari duduk-duduk dalam sebuah tempat pertemuan di sekitar Mekah. Kepada mereka dibacakannya Surah An-Najm sampai pada firman Allah: “Adakah kamu perhatikan Lat dan ‘Uzza. Dan itu Manat, ketiga, yang terakhir?” (Qur’an, 53:19-20) Sesudah itu lalu dibacakannya pula: “Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan.”

emudian ia meneruskan membaca Surah itu seluruhnya sampai pada akhirnya ia sujud. Ketika itu semua orang ikut sujud, tak ada yang ketinggalan. Pihak Quraisy menyatakan kepuasannya atas apa yang telah dibaca Muhammad itu.

Kata mereka: “Kami tahu sudah bahwa Allah itu menghidupkan dan mematikan, menciptakan dan memberi rejeki. Tetapi dewa kami ini menjadi perantara kami kepadaNya. Kalau ternyata dia juga kauberi tempat, maka kamipun setuju dengan kau.”

Dengan demikian hilanglah perselisihan dengan mereka itu. Peristiwa tersebut lalu tersebar di kalangan umum hingga sampai juga ke Abisinia. Pihak Muslimin lalu berkata: Di sana ada keluarga-keluarga dekat kami yang sangat kami cintai. Lalu merekapun pulang kembali. Apabila pada tengah hari mereka sampai ke dekat Mekah mereka bertemu dengan rombongan kafilah Kinana yang lalu dan rombongan itupun menjawab: Ia menyebutkan dewa-dewa mereka dengan baik dan merekapun lalu mengikutinya. Kemudian ia berbalik lagi mencela dewa-dewa mereka itu dan merekapun lalu memusuhinya lagi. Perbuatan mereka itu dibicarakan oleh pihak Muslimin. Tidak tahan lagi mereka ingin menemui keluarga, dan mereka lalu memasuki Mekah.

Sebabnya maka Muhammad berbalik tidak mau menyebutkan dewa-dewa Quraisy dengan baik - menurut beberapa sumber yang mencatat berita ini - ialah karena ia sudah tidak tahan atas ucapan Quraisy: “Kalau ternyata dewa-dewa kami juga kauberi tempat, maka kami pun setuju dengan kau,” dan karena ketika dia sedang duduk-duduk di rumahnya hingga sore Jibril datang dan bertanya:

“Aku membawakan dua anak kalimat ini kepadamu?” dengan menunjuk kepada “Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan.”

Muhammad pun menjawab: “Aku mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah.”

Kemudian Allah mewahyukan:

“Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau tentang apa yang sudah Kami wahyukan kepadamu, supaya engkau mau atas nama Kami memalsukannya dengan yang lain.”


6.2. CERITA GARANIQ

BAGIAN KEENAM
CERITA GARANIQ
[Tulisan 2 dari 5]


“Ketika itulah mereka mengambil engkau menjadi kawan mereka. Dan kalaupun tidak Kami tabahkan hatimu, niscaya engkau hampir cenderung juga kepada mereka barang sedikit. Dalam hal ini, akan Kami timpakan kepadamu hukuman berlipat ganda, dalam hidup dan mati. Selanjutnya engkau tiada akan mempunyai penolong menghadapi Kami.” (Qur’an 17:73-75)

Dengan begitu kembali ia memburuk-burukkan dewa-dewa Quraisy itu, dan Quraisypun kembali lagi memusuhinya dan mengganggu sahabat-sahabatnya.

Demikianlah cerita gharaniq ini, yang bukan seorang saja dari penulis-penulis biografi Nabi yang menceritakannya, demikian juga ahli-ahli tafsir turut menyebutkan, dan tidak sedikit pula kalangan Orientalis yang memang sudah sekian lama mau bertahan. Jelas sekali dalam cerita ini ada kontradiksi. Dengan sedikit pengamatan saja hal ini sudah dapat digugurkan.

Di samping itu cerita ini berlawanan pula dengan segala sifat kesucian setiap nabi dalam menyampaikan risalah Tuhan. Memang mengherankan sekali apabila ada beberapa penulis sejarah Nabi dan ahli tafsir dari kalangan Islam sendiri yang masih mau menerimanya. Oleh karena itu Ibn Ishaq tidak ragu-ragu lagi ketika menjawab pertanyaan dengan mengatakan bahwa cerita itu bikinan orang-orang atheis.

Akan tetapi mereka yang berpegang pada alasan ini berusaha membenarkannya dengan berpegang pada ayat-ayat:

“Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau ...” sampai pada firman Tuhan: “Dan tiada seorang rasul atau seorang nabi yang Kami utus sebelum kau, apabila ia bercita-cita, setan lalu memasukkan gangguan ke dalam cita-citanya itu. Tetapi Allah menghapuskan apa yang dimasukkan setan itu. Kemudian Allah menguatkan keterangan-keterangaNya itu. DanAllah Maha mengetahui dan Bijaksana. Apa yang dimasukkan  setan itu adalah ujian bagi mereka yang berpenyakit dalam hatinya dan berhati batu. Dan mereka yang melakukan kesalahan akan berada dalam pertentangan yang tak berkesudahan.” (Qur’an, 22: 52 - 53)


Ada orang yang menafsirkan kata “bercita-cita” itu dengan arti “membaca,” ada pula yang menafsirkannya dengan arti “bercita-cita,” seperti yang sudah umum dikenal. Kedua mereka ini masing-masing berpendapat - diikuti oleh Orientalis-orientalis - bahwa Quraisy telah sampai di puncaknya menyiksa sahabat-sahabat Nabi, ada yang mereka bunuh, ada pula yang dilemparkan ke padang pasir, dijilat oleh terik matahari yang membakar, ditindih pula dengan batu seperti yang dialami oleh Bilal. Karena itu terpaksa ia menyuruh mereka hijrah ke Abisinia. Demikian juga masyarakatnya sendiripun begitu kasar terhadap dirinya yang juga kemudian memboikotnya. Tetapi karena ia begitu menjaga keislaman mereka yang sudah lepas dari penyembahan berhala, ia pun lalu mendekati kaum musyrik dan membacakan Surah an-Najm dengan menambahkan lagi cerita gharaniq. Sesudah ia sujud merekapun ikut pula sujud. Mereka lalu memperlihatkan suatu kecenderungan hendak mengikutinya, karena ia sudah memberi tempat kepada dewa-dewa mereka itu disamping Allah.

Atas peristiwa ini yang juga disebutkan dalam beberapa buku biografi dan buku-buku tafsir - Sir William Muir menganggapnya sebagai suatu argumen yang kuat tentang adanya cerita gharaniq itu. Selanjutnya kaum Muslimin yang telah berangkat ke Abisinia itu belum lagi selang tiga bulan sejak mereka mengungsi, yang dalam pada itu mereka telah diberi suaka dengan baik sekali oleh pihak Najasyi. Kalau tidak karena tersiarnya berita, bahwa antara Muhammad dengan Quraisy sudah tercapai kompromi, tentu tak ada motif lain yang akan mendorong mereka itu kembali, ingin berhubungan dengan keluarga dan kerabat mereka. Dan dari mana pula akan ada kompromi antara Muhammad dengan Quraisy itu, kalau bukan Muhammad juga yang mengusahakannya. Di Mekah ia termasuk minoritas dengan tenaga yang masih lemah. Juga sahabat-sahabatnya masih lemah sekali untuk dapat mempertahankan diri dari gangguan dan penyiksaan Quraisy.

Alasan-alasan yang dikemukakan mereka, dengan mengatakan, bahwa cerita gharaniq itu benar adanya, adalah suatu alasan yang lemah sekali dan tidak tahan uji. Baiklah kita mulai dulu dengan menolak Muir. Kembalinya kaum Muslimin ke Mekah dari Abisinia, pada dasarnya karana dua sebab:

Pertama, karena ‘Umar ibn’l-Khattab masuk Islam tidak lama setelah mereka hijrah. Umar masuk Islam dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentang agama ini dahulu. Ia masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi. Malah terang-terangan ia mengumumkan di depan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka. Ia tidak mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap di celah-celah pegunungan Mekah dalam melakukan ibadat, menjauhkan diri jauh dari gangguan Quraisy. Bahkan ia terus melawan Quraisy sampai nanti dia beserta kaum Muslimin itu dapat melakukan ibadat dalam Ka’bah.


6.3. CERITA GARANIQ

BAGIAN KEENAM
CERITA GARANIQ
[Tulisan 3 dari 5]

Disinilah pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang dialami Muhammad dan sahabat-sahabatnya, hampir-hampir menimbulkan perang saudara, yang akibat-akibatnya tidak akan dapat dibayangkan, dan siapa pula yang akan binasa. Ada orang-orang dari kabilah-kabilah Quraisy dan dari keluarga-keluarga bangsawannya yang sudah menerima Islam, mereka akan lalu berontak bila siapa saja dari kabilahnya itu ada yang terbunuh sekalipun orang itu berlainan agama. Jadi, dalam memerangi Muhammad ini, mereka harus memempuh suatu cara yang tidak akan membawa akibat yang begitu berbahaya. Di samping itu supaya cara ini dapat pula disepakati oleh Quraisy mereka mengadakan genjatan senjata dengan pihak Muslimin, sehingga dengan demikian tiada seorangpun dari mereka itu yang boleh diganggu. Inilah yang telah sampai kepada kaum pengungsi di Abisinia itu, dan membuat mereka berpikir-pikir akan kembali ke Mekah

Kedua. Sungguhpun begitu, barangkali mereka masih maju-mundur juga akan kembali, kalau tidak karena adanya sebab kedua yang telah menguatkan niat mereka, yakni pada waktu itu di Abisinia sedang berkecamuk suatu pemberontakan melawan Najasyi, yang dilancarkan karena adanya suatu tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia melaksanakan janjinya dan memperlihatkan rasa kasih-sayangnya kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin sendiri menyatakan harapannya sekiranya Tuhan akan memenangkan Negus terhadap lawannya itu. Tetapi mereka sendiri tidak sampai melibatkan diri dalam pemberontakan, karena mereka adalah orang-orang asing, dan lagi mereka belurn begitu lama tinggal di Abisinia. Bahwa yang telah sampai kepada mereka itu berita-berita perdamaian antara Muhammad dengan Quraisy, perdamaian yang menyelamatkan Muslimin dari gangguan yang pernah mereka alami, maka bagi mereka akan lebih baik meninggalkan kekacauan yang ada sekarang dan kembali bergabung kepada keluarga mereka sendiri.

Inilah yang telah mereka lakukan semua, atau sebagian dari mereka.

Hanya saja, sebelum mereka sampai ke Mekah, pihak Quraisy sudah berkomplot lagi terhadap Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kabilah-kabilah mereka sudah mengadakan persetujuan tertulis bersama; mereka berjanji mengadakan pemboikotan total terhadap Banu Hasyim: tidak akan saling berjual-beli .

Dengan adanya perjanjian itu perang yang tak berkesudahan antara kedua belah pihak itupun segera berkecamuk lagi. Sekarang mereka yang telah pulang dari Abisinia itu kembali lagi ke sana. Bersama mereka ikut pula orang-orang yang masih dapat pergi bersama-sama. Sekali ini mereka menghadapi kekerasan dari Quraisy, yang berusaha hendak merintangi mereka itu hijrah.

Jadi, bukanlah kompromi seperti yang disebutkan Muir itu yang menyebabkan Muslimin kembali dari Abisinia, melainkan karena adanya perjanjian perdamaian sebagai akibat Umar yang telah masuk Islam serta semangatnya yang berapi-api hendak membela agama ini. Jadi dukungan mereka atas adanya cerita gharaniq dengan alasan kompromi itu, adalah dukungan yang samasekali tidak punya dasar.

Adapun alasan yang dikemukakan oleh penulis-penulis biografi dan ahli-ahli tafsir dengan ayat-ayat: “Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau ...,” dan “Dan tiada seorang rasul atau seorang nabi yang Kami utus sebelum kau, apabila ia bercita-cita, setan lalu memasukkan gangguan ke dalam cita-citanya itu ...” adalah alasan yang lebih kacau lagi dari argumen Sir Muir. Cukup kita sebutkan ayat pertama itu saja dalam firman Tuhan: “Dan kalaupun tidak Kami tabahkan hatimu, niscaya engkau hampir cenderung juga kepada mereka barang sedikit,” untuk kita lihat, bahwa setan telah memasukkan gangguan ke dalam cita-cita Rasul itu, sehingga hampir saja ia cenderung kepada mereka sedikit-sedikit; tetapi Tuhan menguatkan hatinya sehingga tidak sampai dilakukannya, dan kalau dilakukan juga, Tuhan akan menimpakan hukuman berlipat-ganda dalam hidup dan mati.

Jadi, dengan membawa ayat-ayat ini sebagai alasan, jelaslah alasan itu terbalik adanya.

Jalan cerita gharaniq ini ialah bahwa Muhammad telah benar-benar berpihak kepada Quraisy dan Quraisypun sudah benar-benar pula menggodanya sehingga ia mau mengatakan sesuatu yang tidak difirmankan Tuhan. Sedang ayat-ayat di sini menegaskan, bahwa Tuhan telah menguatkan hatinya, sehingga dia tidak melakukan hal itu. Bilamana disebutkan demikian, bahwa buku-buku tafsir dan sebab-sebabnya turun Qur’an membuat ayat-ayat ini dapat mengubah masalah gharaniq, kita lihat bahwa alasan ini berlawanan sekali dengan kesucian para rasul dalam menyampaikan tugas mereka, dan bertentangan dengan seluruh sejarah Muhammad. Suatu alasan yang kacau, bahkan lemah samasekali.


6.4. CERITA GARANIQ

BAGIAN KEENAM
CERITA GARANIQ
[Tulisan 4 Dari 5]

Sedang bunyi ayat-ayat “Dan tiada seorang rasul dan seorang nabi yang Kami utus sebelum kauÉ” sama sekali tak ada hubungannya dengan cerita gharaniq itu. Apalagi yang menyebutkan bahwa Tuhan telah menghapuskan gangguan yang dimasukkan setan dan akan menjadikan godaan bagi mereka yang berpenyakit dalam hatinya dan berhati batu; kemudian Allah menguatkan keterangan-keteranganNya. Dan Allah Maha mengetahui dan Bijaksana.

Bilamana cerita ini diteliti dengan penyelidikan ilmiah ternyata ia tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Yang pertama sekali sebagai bukti ialah adanya beberapa sumber yang beraneka-ragam. Pernah diceritakan seperti disebutkan di atas - bahwa ungkapan itu ialah “Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan.” Sumber lain menyebutkan: “Gharaniqa yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan.” Sumber selanjutnya menyebutkan: “perantaraannya dapat diharapkan,” tanpa menyebutkan gharaniqa atau gharaniq. Sumber keempat mengatakan: “Dan sebenarnya itulah gharaniq yang luhur.” Sumber kelima menyebutkan: “Dan sebenamya mereka itulah gharaniq yang luhur, dan perantaraan mereka bagi mereka yang diharapkan.”1 Dalam beberapa buku hadis disebutkan adanya sumber-sumber lain di samping yang  lima tadi. Adanya keaneka-ragaman dalam sumber-sumber tersebut menunjukkan, bahwa hadis itu palsu adanya, dan bikinan golongan atheis, seperti kata Ibn Ishaq, dan tujuannya ialah hendak menanamkan kesangsian tentang kebenaran ajakan Muhammad dan risalah Tuhan itu

Bukti lain yang lebih kuat dan pasti, ialah konteks atau susunan Surah an-Najm yang sama sekali tidak menyinggung soal gharaniq ini. Konteks itu seperti dalam firman Tuhan;

“Sungguh dia telah melihat keterangan-keterangan yang amat besar dan Tuhan. Adakah kamu perhatikan Lat dan ‘Uzza? Dan Manat ketiga, yang terakhir? Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek-moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya; yang mereka turuti hanyalah prasangka dan kehendak nafsu belaka. Dan pada mereka pimpinan yang benar dari Tuhan sudah pernah ada.” (Qur’an, 53:18-23)

Susunan ini jelas sekali, bahwa Lat dan ‘Uzza adalah nama-nama yang dibuat-buat oleh kaum musyrik, mereka dan nenek-moyang mereka, sedang Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Bagaimana mungkin susunan itu akan berjalan sebagai berikut: “Adakah kamu perhatikan Lat dan ‘Uzza. Dan Manat ketiga, yang terakhir. Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan. Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek-moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya.”

Susunan ini rusak, kacau dan bertentangan satu sama lain. Dan pujian kepada Lat, ‘Uzza dan Manat ketiga yang terakhir dan celaan dalam empat ayat berturut-turut tak dapat diterima akal dan tak tak ada orang yang akan berpendapat begitu.

Yang demikian ini sudah tak dapat diragukan lagi, dan bahwa hadis tentang gharaniq itu adalah palsu dan bikinan golongan atheis dengan maksud-maksud tertentu. Orang yang suka pada yang aneh-aneh dan tidak berpikir logis, tentu percaya akan hadis ini.

Argumen lain ialah seperti yang dikemukakan oleh almarhum Syaikh Muhammad Abduh dalam tulisannya yang jelas membantah cerita gharaniq ini, yaitu bahwa belum pernah ada orang Arab menamakan dewa-dewa mereka dengan gharaniq, baik dalam sajak-sajak atau dalam pidato-pidato mereka. Juga tak ada berita yang dibawa orang mengatakan, bahwa nama demikian itu pernah dipakai dalam percakapan mereka. Tetapi yang ada ialah sebutan ghurnuq dan ghirniq sebagai nama sejenis burung air, entah hitam atau putih, dan sebutan untuk pemuda yang putih dan tampan. Dari semua itu, tak ada yang cocok untuk diberi arti dewa, juga orang-orang Arab dahulu tak ada yang menamakannya demikian.

Tinggal lagi sebuah argumen yang dapat kita kemukakan sebagai bukti bahwa cerita gharaniq ini mustahil akan ada dalam sejarah hidup Muhammad sendiri. Sejak kecilnya, semasa anak-anak dan semasa mudanya, belum pernah terbukti ia berdusta, sehingga ia diberi gelar Al-Amin, “yang dapat dipercaya,” pada waktu usianya belum lagi mencapai duapuluh lima tahun. Kejujurannya sudah merupakan hal yang tak perlu diperbantahkan lagi di kalangan umum, sehingga ketika suatu hari sesudah kerasulannya ia bertanya kepada Quraisy:
“Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kukatakan, bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu?” Jawab mereka: “Ya, engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat kau berdusta.”

Catatan kaki:

1. Sekedar gambaran terjemahan ini hanya dari segi ungkapan sedang perbedaan atau persamaan yang lebih jelas hanya dari segi semantik menurut bahasa aslinya (A).




6.5. CERITA GARANIQ

BAGIAN KEENAM
CERITA GARANIQ
[Tulisan 5 Dari 5]

Jadi orang yang sudah dikenal sejak kecil hingga tuanya begitu jujur, bagaimana orang akan percaya bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah, ia akan takut kepada orang dan bukan kepada Allah! Hal ini tidak mungkin. Mereka yang sudah mempelajari jiwanya yang begitu kuat, begitu cemerlang, jiwa yang begitu membenteng mempertahankan kebenaran dan tidak pula pernah mencari muka dalam soal apapun, akan mengetahui ketidak mungkinan cerita itu. Betapa kita melihat Muhammad berkata: Kalau Quraisy meletakkan matahari di sebelah kanannya, dan meletakkan bulan di sebelah kirinya dengan maksud supaya ia melepaskan tugasnya, akan mati sekalipun dia tidak akan melakukan hal itu - bagaimana pula akan mengatakan sesuatu yang tidak diwahyukan Allah kepadanya, dan mengatakan itu untuk meruntuhkan sendi agama yang oleh karenanya ia diutus Allah sebagai petunjuk dan berita gembira bagi seluruh umat manusia!

Dan kapan pula ia kembali kepada Quraisy guna memuji-muji dewa-dewa mereka? Ataukah sesudah sepuluh tahun atau sekian tahun dari kerasulannya, demi tugas yang besar itu ia sanggup memikul pelbagai macam siksaan, berupa-rupa pengorbanan, sesudah Allah memperkuat Islam dengan Hamzah dan Umar dan sesudah kaum Muslimin mulai menjadi kuat di Mekah, dengan berita yang sudah meluas pula ke seluruh jazirah, ke Abisinia dan semua penjuru?! Pendapat demikian ini adalah suatu legenda, suatu kebohongan yang sudah tak berlaku.

Mereka yang menciptakan cerita ini sebenarnya sudah merasakan bahwa hal ini akan mudah terbongkar. Mereka lalu berusaha menutupinya dengan mengatakan, bahwa begitu Muhammad mendengar kata-kata Quraisy bahwa dewa-dewa mereka sudah mendapat tempat sebagai perantara, hal itu berat sekali dirasanya, sehingga ia kembali kepada Tuhan bertobat, dan begitu ia pulang ke rumah sore itu Jibrilpun datang. Tetapi tabir ini akan terbuka juga kiranya. Kalau hal itu oleh Muhammad sudah sangat luar biasa, ketika ia mendengar kata-kata Quraisy itu, apalagi ia sampai akan mengoreksi wahyu pada waktu itu juga.

Jadi masalah gharaniq ini memang tidak punya dasar, selain sebagai karangan yang dibikin-bikin oleh suatu golongan yang mau melakukan tipu muslihat terhadap Islam, yang terjadi sesudah permulaan sejarah Islam. Yang lebih mengherankan lagi ialah karena kecerobohan mereka yang telah melakukan pemalsuan-pemalsuan itu melemparkan pemalsuan mereka justru ke dalam jantung Islam, yaitu ke dalam Tauhid! Yang justru karena itu pulalah Muhammad diutus, supaya meneruskannya kepada umat manusia sejak dari semula, dan yang sejak itu pula tidak kenal arti mengalah. Juga segala yang ditawarkan kepadanya oleh Quraisy apa saja yang dikehendakinya berupa harta, bahkan akan dijadikannya ia raja atas mereka, tidak sampai membuatnya jadi berpaling. Semua itu ditawarkan kepadanya, pada waktu penduduk Mekah yang menjadi pengikutnya masih sedikit sekali jumlahnya. Waktu itu gangguan-gangguan Quraisy kepada sahabat-sahabatnya tidak sampai membuat ia surut dari dakwah yang diperintahkan Tuhan kepadanya, yaitu supaya diteruskan kepada umat manusia. Jadi sasaran mereka yang telah melakukan pemalsuan terhadap masalah yang begitu teguh menjadi pegangan Muhammad yang tak ada taranya itu, hanya menunjukkan suatu kecerobohan yang tidak rasional, dan yang sekaligus menunjukkan pula, bahwa mereka yang masih cenderung mau mempercayainya ternyata telah tertipu; suatu hal yang sebenarnya tidak perlu sampai ada orang akan tertipu karenanya.

Jadi masalah gharaniq ini memang samasekali tidak punya dasar, dan samasekali tak ada hubungannya pula dengan kembalinya Muslimin dari Abisinia. Seperti disebutkan di atas, mereka kembali karena Umar sudah masuk Islam dan dengan semangatnya yang sama seperti sebelum itu ia membela Islam, sampai menyebabkan Quraisy terpaksa mengadakan perjanjian perdamaian dengan Muslimin. Juga mereka kembali pulang ketika di Abisinia sedang berkecamuk pemberontakan. Mereka kuatir akan akibatnya. Tetapi setelah Quraisy mengetahui mereka kembali, kekuatirannya makin bertambah akan besarnya pengaruh Muhammad di kalangan mereka. Quraisypun lalu membuat rencana mengatur langkah berikutnya, yang berakhir dengan dibuatnya piagam yang menentukan diantaranya tidak akan saling mengawinkan, berjual-beli dan bergaul dengan Banu Hasyim, dan yang juga sudah sepakat diantara mereka, akan membunuh Muhammad jika dapat.


6.6. PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI

BAGIAN KETUJUH
PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI
[Tulisan 1 Dari 3]


Highlight
  • Umar mengumumkan keislamannya dan Muslimin beribadat di Ka’bah 
  • Piagam pemboikotan 
  • Daya-upaya Quraisy memerangi Muhammad 
  • Alat propaganda bahasa yang mempesonakan 
  • Jabr orang Nasrani 
  • Terpengaruhnya Quraisy pada ajakan yang baru  
  • At-Tufail ad-Dausi 
  • Delegasi Nasrani  
  • Kekuatiran-kekuatiran Quraisy: persaingan, kehilangan kedudukan di Mekah, hari kebangkitan.
ISLAMNYA Umar telah membawa kelemahan ke dalam tubuh Quraisy karena ia masuk agama ini dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentangnya dahulu. Ia masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di depan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka. Ia tidak mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap di celah-celah pegunungan Mekah, mau melakukan ibadat jauh dari gangguan Quraisy. Bahkan ia terus melawan Quraisy, sampai nanti dia beserta Muslimin itu dapat melakukan ibadat dalam Ka’bah. Disini pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang dialami Muhammad dan sahabat-sahabatnya, takkan mengubah kehendak orang menerima agama Allah, untuk kemudian berlindung kepada Umar dan Hamzah, atau ke Abisinia atau kepada siapa saja yang mampu melindungi mereka.

Quraisy lalu membuat rencana lagi mengatur langkah berikutnya. Setelah sepakat, mereka membuat ketentuan tertulis dengan persetujuan bersama mengadakan pemboikotan total terhadap Banu Hasyim dan Banu Abd’l-Muttalib: untuk tidak saling kawin-mengawinkan, tidak saling berjual-beli apapun. Piagam persetujuan ini kemudian digantungkan di dalam Ka’bah sebagai suatu pengukuhan dan registrasi bagi Ka’bah. Menurut perkiraan mereka, politik yang negatif, politik membiarkan orang kelaparan dan melakukan pemboikotan begini akan memberi hasil yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan penyiksaan, sekalipun kekerasan dan penyiksaan itu tidak mereka hentikan. Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum Muslimin dan terhadap Banu Hasyim dan Banu Abd’l Muttalib sudah berjalan selama dua atau tiga tahun, dengan harapan sementara itu Muhammadpun akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Dengan demikian dia dan ajarannya itu tidak lagi berbahaya.

Akan tetapi ternyata Muhammad sendiri malah makin teguh berpegang pada tuntunan Allah, juga keluarganya, dan mereka yang sudah berimanpun makin gigih mempertahankannya dan mempertahankan agama Allah. Menyebarkan seruan Islam sampai keluar perbatasan Mekah itu pun tak dapat pula dihalang-halangi. Maka tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah masyarakat Arab dan kabilah-kabilah, sehingga membuat agama yang baru ini, yang tadinya hanya terkurung ditengah-tengah lingkaran gunung-gunung Mekah, kini berkumandang gemanya ke seluruh jazirah. Orang-orang Quraisy makin tekun memikirkan bagaimana caranya memerangi orang yang sudah melanggar adat kebiasaannya dan menista dewa-dewanya itu, bagaimana caranya menghentikan tersiarnya ajarannya itu di kalangan kabilah-kabilah Arab, kabilah-kabilah yang tak dapat hidup tanpa Mekah dan juga Mekah tak dapat hidup tanpa mereka dalam perdagangan, dalam kegiatan impor dan ekspor dari dan ke Ibukota itu.

Quraisy mencurahkan semua kegiatannya dalam memerangi orang yang dianggapnya sudah melanggar kebiasaan mereka, melanggar kepercayaan mereka dan kepercayaan leluhur mereka itu. Dengan tabah dan secara terus-menerus selama bertahun-tahun, apa yang telah mereka lakukan untuk menghancurkan ajaran baru ini, sungguh di luar yang dapat kita bayangkan. Muhammad diancam, keluarga dan ninik-mamaknya, diancam. Ia diejek, ajarannya diejek. Ia diperolok, dan orang yang jadi pengikutnya juga diperolok. Penyair-penyair mereka didatangkan supaya mengejeknya, supaya memburuk-burukkannya. Ia diganggu, dan orang yang jadi pengikutnya dinista dan disiksa. Ia mau disuap, ditawari kerajaan, ditawari segala yang menjadi kedambaan orang. Kawan-kawan seperjuangannya diusir dari tanah air, perdagangan dan pintu rejeki mereka dibekukan. Ia dan sahabat-sahabatnya diancam dengan perang serta segala akibatnya yang mengerikan.

Akhirnya blokade, akan dibiarkan mati kelaparan jika mungkin.

Tetapi, sungguhpun begitu, Muhammad tetap tabah. Dengan cara yang amat baik tetap ia mengajak orang menerima kebenaran, yang hanya karena itu ia diutus Tuhan kepada umat manusia, sebagai pembawa berita gembira, dan peringatan. Bukankah sudah tiba waktunya Quraisy meletakkan senjatanya, dan mempercayai Al-Amin, orang yang dikenalnya sejak masa anak-anak, sejak masa muda belia, sebagai orang yang jujur, tak pernah berdusta!? Ataukah mereka sudah mencari alat lain selain senjata perang seperti disebutkan, dan lalu terbayang oleh mereka, bahwa dengan demikian mereka akan menang perang, lalu kedudukan berhala-berhala mereka akan dapat dipertahankan sebagai pusat ketuhanan mereka seperti yang mereka duga, dan Mekahpun akan dapat dipertahankan sebagai museum berhala-berhala dan tempat yang disucikan karena berhala-berhala itu akan tetap berada di Mekah?!

Tidak! Belum tiba saatnya bagi Quraisy akan tunduk dan menyerah. Mereka sekarang sedang dalam puncak kekuatirannya bila seruan Muhammad ini nanti akan tersebar di kalangan kabilah-kabilah Arab sesudah terlebih dulu tersebar di Mekah.

Tinggal satu senjata lagi pada mereka sekarang yang sejak semula sudah menjadi pegangan dan kekuatan mereka, yaitu senjata propaganda: propaganda dengan segala implikasinya berupa perdebatan, argumentasi-argumentasi, caci maki, penyebaran desas-desus serta sifat merendahkan argumen lawan dengan menganggap alasan-alasannya sendiri yang lebih baik. Propaganda melawan akidah dan pembawa akidah disertai tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Propaganda yang tidak hanya terbatas pada Mekah saja - sebenarnya buat Mekah ini sudah tidak lagi diperlukan dibandingkan dengan daerah pedalaman lain serta kabilah-kabilahnya, semenanjung jazirah serta semua penduduknya. Dengan mengadakan ancaman bujukan, teror dan penyiksaan, propaganda tidak diperlukan lagi buat Mekah. Tapi buat ribuan orang yang datang ke Mekah tiap tahun masih tetap diperlukan. Mereka datang dalam urusan perdagangan dan berziarah. Mereka berkumpul di pasar-pasar ‘Ukaz, Majanna dan Dhul-Majaz, yang kemudian berziarah sambil menyembelih kurban, mengharapkan berkah dan ampunan.

Oleh karena itu, sejak memuncaknya permusuhan antara Quraisy dengan Muhammad terpikir oleh mereka akan menyusun suatu alat propaganda anti Muhammad. Lebih gigih lagi mereka memikirkan hal ini sesudah orang-orang yang berziarah itu diajaknya supaya beribadat hanya kepada Allah yang Esa dan tidak bersekutu. Hal ini sudah terpikir olehnya sejak tahun-tahun pertama dari kerasulannya itu. Pada mulanya, sejak masa kerasulannya, ia adalah seorang nabi, sampai datangnya wahyu menyuruh ia memperingatkan keluarga-keluarganya yang dekat. Setelah ia memperingatkan keluarga-keluarga Quraisy dan ada di antara mereka yang menerima Islam, di samping banyak juga yang masih kepala batu dan mau berpikir-pikir dulu, ia masih berkewajiban mengajak bangsanya sendiri, seluruh masyarakat Arab, untuk kemudian meneruskan kewajibannya itu mengajak seluruh umat manusia.

Setelah terpikir akan mengajak orang yang datang berziarah dari berbagai macam kabilah Arab itu beribadat kepada Allah, beberapa orang dari kalangan Quraisy datang berunding dan mengadakan pertemuan di rumah Walid bin’l-Mughira: Maksudnya supaya dalam menghadapi persoalan Muhammad itu satu sama lain mereka tidak bertentangan, dan tidak saling mendustakan mengenai apa yang harus mereka katakan kepada orang-orang Arab yang datang musim ziarah itu. Ada yang mengusulkan, supaya dikatakan saja, bahwa Muhammad itu dukun. Tetapi al-Walid menolak pendapat ini, sebab apa yang dikatakan Muhammad bukan kumat-kamit seorang dukun. Yang lain mengusulkan lagi, bahwa Muhammad itu orang gila. Walidpun menolak pendapat ini, sebab gejala atas tuduhan demikian tidak tampak. Ada lagi yang menyarankan supaya Muhammad dikatakan sebagai tukang sihir. Juga di sini Walid menolak, sebab Muhammad tidak mengerjakan rahasia juru tenung atau sesuatu pekerjaan tukang-tukang sihir.

Sesudah terjadi diskusi akhirnya Walid mengusulkan supaya kepada peziarah-peziarah orang-orang Arab itu dikatakan bahwa dia (Muhammad) seorang juru penerang yang mempesonakan,1 apa yang dikatakannya merupakan pesona yang akan memecah-belah orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan isteri dan keluarganya. Dan apa yang dituduhkan itu pada orang-orang Arab pendatang itu merupakan bukti, sebab penduduk Mekah sudah ditimpa perpecahan dan permusuhan. Padahal sebelum itu penduduk Mekah merupakan suatu contoh solidaritas dan ikatan yang paling kuat

Pihak Quraisy pada musim ziarah itu segera menyongsong orang-orang yang datang berziarah dengan memperingatkan mereka jangan mendengarkan orang itu dan pesona bahasanya. Jangan sampai mereka itu mengalami bencana seperti yang dialami penduduk Mekah dan menjadi api fitnah yang akan membakar seluruh jazirah Arab.

Akan tetapi propaganda begini tidak dapat berdiri sendiri, juga tidak dapat melawan penerangan yang mempesonakan yang sudah dipercayai orang itu. Kalau memanglah kebenaran yang dibawa oleh penerangan yang mempesonakan itu, apa salahnya orang mempercayainya? Adakah bila sewaktu-waktu orang mengakui kelemahannya dan menyatakan perlawanannya merupakan suatu propaganda yang ampuh? Di samping propaganda itu Quraisy harus punya propaganda lain lagi. Untuk propaganda itu Quraisy akan mendapatkannya pada Nadzr b. Harith. Manusia Nadzr ini adalah setannya Quraisy, orang yang pernah pergi ke Hira dan mempelajari cerita raja-raja Persia, peraturan-peraturan agamanya, ajaran-ajarannya tentang kebaikan dan kejahatan serta tentang asal-usul alam semesta. Setiap dalam suatu pertemuan Muhammad mengajak orang kepada Allah, serta memperingatkan mereka tentang akibat-akibat yang telah menimpa bangsa-bangsa sebelumnya yang menentang peribadatan kepada Allah, ia lalu datang menggantikan tempat Muhammad dalam pertemuan itu. Maka berceritalah ia kepada Quraisy tentang sejarah dan agamanya, lalu katanya: Dengan cara apa Muhammad membawakan ceritanya lebih baik daripada aku? Bukankah Muhammad membacakan cerita-cerita orang dahulu seperti yang kubacakan juga? Quraisypun lalu menyebarkan kisah-kisah Nadzr itu dengan jalan bercerita lagi sebagai propaganda atas peringatan dan ajakan Muhammad kepada mereka itu.
[
Dalam pada itu di Marwa Muhammad sering duduk-duduk dengan seorang budak Nasrani yang konon bernama Jabr. Orang-orang Quraisy menuduh, bahwa sebagian besar apa yang dibawa Muhammad itu, Jabr inilah yang mengajarnya. Apabila ada orang yang mau meninggalkan kepercayaan nenek-moyangnya, maka agama Nasrani inilah yang lebih utama. Jadi tuduhan inilah yang di desas-desuskan oleh Quraisy. Untuk itulah datang Firman Tuhan:

“Kami sungguh mengetahui bahwa mereka berkata; yang mengajarkan itu adalah seorang manusia. Bahasa orang yang mereka tuduhkan itu bahasa asing, sedang ini adalah bahasa Arab yang jelas sekali.” (Qur’an: 16: 103)

Dengan propaganda semacam itu dan sebangsanya Quraisy memerangi Muhammad lagi dengan harapan akan lebih ampuh daripada gangguan yang dialaminya dan siksaan yang dialami pengikut-pengikutnya. Akan tetapi kuatnya kebenaran dalam bentuk yang jelas dan sederhana yang dilukiskan melalui ucapan Muhammad, lebih tinggi dari yang mereka katakan. Makin sehari makin tersebar juga itu di kalangan orang-orang Arab. Tufail b. ‘Amr ad-Dausi, seorang bangsawan dan penyair cendikiawan, ketika datang di Mekah segera dihubungi oleh Quraisy dengan memperingatkannya dari Muhammad dan kata-katanya yang mempesonakan itu, yang hendak memecah-belah orang dengan keluarganya, bahkan dengan dirinya sendiri. Mereka kuatir kalau peristiwa seperti Mekah itu akan menimpa mereka juga. Jadi sebaiknya jangan mengajak dan jangan mendengarkan dia bicara.

Hari itu Tufail pergi ke Ka’bah. Muhammad sedang di sana. Ketika ia mendengarkan kata-kata Muhammad, ternyata itu kata-kata yang baik sekali. “Biar aku mati, aku seorang cendekiawan, penyair,” katanya dalam hati. “Aku dapat mengenal mana yang baik dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan orang itu! Jika ternyata baik akan kuterima, kalau buruk akan kutinggalkan.”

Diikutinya Muhammad sampai di rumah. Lalu dikatakannya apa yang terlintas dalam hatinya itu. Muhammad menawarkan Islam kepadanya dan dibacakannya ayat-ayat Quran. Laki-laki itu segera menerima Islam dan dinyatakannya kebenaran itu dengan mengucapkan kalimat Syahadat.

Catatan kaki:
1. Juru penerang yang mempesonakan, Juru pesona bahasa
atau pesona bahasa hampir merupakan terjemahan harfiah dari ungkapan Sahir’-bayan atau Sihr’l-bayan, yang sukar diterjemahkan, yakni suatu retorika, yang karena kefasihan dan keindahan bahasanya, orang yang mendengarnya terpesona seperti kena sihir lalu cepat sekali menerima (A).



6.7. PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI

BAGIAN KETUJUH
PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI
[Tulisan 2 Dari 3]

Bilamana kemudian ia kembali lagi kepada masyarakatnya sendiri diajaknya mereka itu menerima Islam. Merekapun ada yang segera menerima, tapi ada juga yang masih lambat-lambat. Dalam pada itu, beberapa tahun berikutnya sebagian besar mereka sudah pula menerima Islam. Setelah pembebasan Mekah dan sesudah susunan politik dengan bentuk tertentu sudah mulai terarah, merekapun menggabungkan diri kepada Nabi.

Peristiwa Tufail ad-Dausi ini tidak lebih adalah sebuah contoh saja dari sekian-banyak peristiwa. Yang telah menerima ajakan Muhammad ini bukan terdiri dari hanya penyembah-penyembah berhala saja. Sewaktu dia di Mekah dulu pernah datang kepadanya duapuluh orang Nasrani, setelah mereka mendengar berita itu. Lalu mereka menanyainya, mendengarkan kata-katanya. Merekapun menerima,mereka beriman dan mempercayainya. Inilah pula yang membuat Quraisy makin geram, sehingga mereka juga dimaki-maki.

“Kamu utusan yang gagal. Kamu sekalian disuruh oleh masyarakat seagamamu mencari berita tentang orang itu. Sebelum kamu kenal benar-benar siapa dia agama kamu sudah kamu tinggalkan dan lalu percaya saja apa yang dikatakannya.”

Tetapi kata-kata Quraisy itu tidak membuat utusan itu mundur menjadi pengikut Muhammad, juga tidak lalu meninggalkan Islam. Bahkan imannya kepada Allah lebih kuat daripada ketika mereka masih dalam agama Nasrani. Mereka sudah menyerahkan diri kepada Tuhan sebelum mereka mendengarkan Muhammad.

Tetapi apa yang terjadi terhadap diri Muhammad lebih hebat lagi dari itu. Orang Quraisy yang paling keras memusuhinya sudah mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri: benarkah ia mengajak orang kepada agama yang benar? Dan apa yang dijanjikan dan diperingatkan kepada mereka, itu pula yang benar?

Abu Sufyan b. Harb, Abu Jahl b. Hisyam dan al-Akhnas b. Syariq malam itu pergi ingin mendengarkan Muhammad ketika sedang membaca Qur’an di rumahnya. Mereka masing-masing mengambil tempat sendiri-sendiri untuk mendengarkan, dan tempat satu sama lain tidak saling diketahui. Muhammad yang biasa bangun tengah malam, malam itu juga ia sedang membaca Qur’an dengan tenang dan damai. Dengan suaranya yang sedap itu ayat-ayat suci bergema ke dalam telinga dan kalbu.

Tetapi sesudah fajar tiba, mereka yang mendengarkan itu terpencar pulang ke rumah masing-masing. Di tengah jalan, ketika mereka bertemu, masing-masing mau saling menyalahkan:
Jangan terulang lagi. Kalau kita dilihat oleh orang-orang yang masih bodoh, ini akan melemahkan kedudukan kita dan mereka akan berpihak kepada Muhammad.

Tetapi pada malam kedua, masing-masing mereka membawa perasaan yang sama seperti pada malam kemarin. Tanpa dapat menolak, seolah kakinya membawanya kembali ke tempat yang semalam itu juga, untuk mendengarkan lagi Muhammad membaca Qur’an. Hampir fajar, ketika mereka pulang, bertemu lagi mereka satu sama lain dan saling menyalahkan pula. Tetapi sikap mereka demikian itu tidak mengalangi mereka untuk pergi lagi pada malam ketiga.

Setelah kemudian mereka menyadari, bahwa dalam menghadapi dakwah Muhammad itu mereka merasa lemah, berjanjilah mereka untuk tidak saling mengulangi lagi perbuatan mereka demikian itu. Apa yang sudah mereka dengar dari Muhammad itu, dalam jiwa mereka tertanam suatu kesan, sehingga mereka satu sama lain saling menanyakan pendapat mengenai yang sudah mereka dengar itu. Dalam hati mereka timbul rasa takut. Mereka kuatir akan jadi lemah, mengingat masing-masing adalah pemimpin masyarakat, sehingga dikuatirkan masyarakatnyapun akan jadi lemah pula dan menjadi pengikut Muhammad juga.

Gerangan apa keberatan mereka menjadi pengikut-pengikut Muhammad? Padahal ia tidak mengharapkan harta dari mereka, tidak ingin menjadi pemimpin mereka, menjadi raja mereka atau penguasa di atas mereka? Disamping itu dia adalah laki-laki yang sungguh rendah hati, sangat mencintai masyarakatnya, setia kepada mereka dan ingin sekali membimbing mereka. Sangat halus perasaannya, sehingga kalau akan merugikan orang miskin atau yang lemahpun ia merasa takut. Setiap ia mengalami penderitaan, hatinya baru merasa tenang bila ia sudah merasa mendapat pengampunan. Bukankah tatkala suatu hari ia sedang dengan al-Walid bin’l-Mughira, salah seorang pemimpin Quraisy yang diharapkan keislamannya, tiba-tiba lewat Ibn Umm Maktum yang buta, dan minta diajarkan Qur’an kepadanya. Begitu mendesak ia, sehingga Muhammad merasa kesal karenanya, mengingat ia sedang sibuk menghadapi Walid. Ditinggalkannya orang buta itu dengan muka masam.

Tetapi setelah ia kembali seorang diri hati kecilnya memperhitungkan perbuatannya tadi itu sambil bertanya-tanya kepada dirinya sendiri: Salahkah aku? Tiba-tiba datang wahyu dengan ayat-ayat berikut:
“Bermasam dan membuang muka ia. Tatkala si buta mendatanginya. Dan apa yang memberitahukan kau, barangkali ia orang yang bersih? Atau ia dapat menerima teguran dan teguran itu berguna baginya. Tetapi kepada orang yang serba cukup itu. Engkau menghadapkan diri. Padahal itu bukan urusanmu kalau dia tidak bersih hati. Tetapi orang yang bersungguh-sungguh datang kepadamu. Dengan rasa penuh takut. Kau abaikan dia. Tidak. Itu adalah sebuah peringatan. Barangsiapa yang sudi, biarlah memperhatikan peringatan itu. Dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Dijunjung tinggi dan disucikan. Yang ditulis dengan tangan. Orang-orang terhormat, orang-orang yang bersih.” (Qur’an: 80: 1-16)

Kalau memang itu soalnya, apalagi yang mengalangi Quraisy menjadi pengikutnya dan mendukung dakwahnya? Terutama sesudah hati mereka jadi lembut, sesudah mereka melupakan masa masa silam dengan bertahan pada warisan lapuk yang membuat jiwa mereka jadi beku, dan sesudah mereka melihat bahwa ajaran Muhammad itu sempurna, dan penuh keagungan?

Tetapi! Benarkah masa yang sudah bertahun-tahun itu membuat orang lupa akan kebekuan jiwanya, akan sikapnya yang konservatif terhadap masa lampau yang sudah lapuk? Ini dapat terjadi pada orang-orang istimewa, yang dalam hatinya selalu terdapat kerinduan pada yang sempurna. Dalam hidup mereka, mereka masih mau mempelajari adanya kebenaran yang sebelumnya sudah mereka percayai untuk kemudian membuang segala kepalsuan yang masih melekat, betapapun tingginya tingkat kebudayaan orang itu. Hati dan pikiran mereka sudah seperti kuali tempat melebur logam yang selalu mendidih, menerima setiap pendapat baru yang dilemparkan kedalamnya, lalu dilebur dan disaring. Mana yang bernoda dibuang, dan tinggal yang baik, yang benar dan yang indah. Mereka itu mencari kebenaran tentang apa saja, di mana saja dan dari siapa saja. Oleh karena pada setiap bangsa, setiap zaman, mereka ini merupakan inti yang terpilih, maka jumlah mereka selalu sedikit. Mereka selalu mendapat perlawanan, yang datangnya terutama dari orang-orang kaya, orang orang berkedudukan dan orang-orang berkuasa. Mereka takut setiap corak pembaruan itu akan menelan harta mereka, akan menghilangkan kedudukan dan kekuasaan mereka. Selain dengan cara hidup mereka yang demikian itu, kenyataan lain yang sudah begitu jelas tidak mereka kenal. Semua itu bagi mereka adalah benar apabila ia dapat menambah kekuatan mereka, dan tidak benar apabila ia dapat menimbulkan kesangsian, sedikit sekalipun. Pemilik harta menganggap, bahwa moral itu benar adanya bilamana ia dapat memberikan tambahan ke dalam hartanya, dan tidak benar bilamana ia merintanginya. Agama adalah benar, bilamana ia dapat membukakan jalan buat hawa-nafsunya, dan tidak benar kalau ia menjadi penghalang hawa-nafsu itu. Yang memiliki kedudukan, yang memiliki kekuasaan dalam hal ini sama saja seperti pemilik harta itu.

Dalam perlawanan mereka terhadap segala pembaharuan yang mereka takuti itu, mereka menghasut orang awam yang rejekinya tergantung kepada mereka, supaya memusuhi penganjur pembaharuan itu. Mereka minta bantuan awam supaya menyucikan bangunan-bangunan kuno yang sudah dimakan kutu setelah minggat ruh yang ada di dalamnya. Benteng-benteng itu mereka jadikan kuil-kuil dari batu, untuk menimbulkan kesan kepada awam yang tak bersalah itu, bahwa ruh suci yang mereka bungkus dengan kain putih, masih dalam keagungannya dalam kurungan kuil-kuil itu. Pada umumnya awam itu membela mereka, sebab, yang penting ia melihat pencariannya. Baginya tidak mudah akan dapat memahami, bahwa kebenaran itu tidak akan tahan tinggal terkurung dalam tembok-tembok kuil betapapun indah dan agungnya tempat itu, dan bahwa sifat kebenaran itu akan selalu bebas menyerbu dan mengisi jiwa orang. Baginya tidak beda jiwa seorang tuan atau jiwa seorang budak. Juga tak ada sebuah peraturan betapapun kerasnya yang dapat merintangi hal itu.

Bagaimana orang dapat mengharapkan dari mereka, mereka yang pernah datang sembunyi-sembunyi mendengarkan pembacaan Qur’an itu, akan mau beriman kepadanya, karena ia menegur mereka yang banyak melakukan pelanggaran itu, karena ia tidak membeda-bedakan si buta miskin dengan orang yang hartanya berlimpah-limpah, kecuali dari kebersihan jiwanya. Kepada seluruh umat manusia diserukannya, bahwa:
“Yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling dapat menjaga diri (yang paling takwa).” (Qur’ an, 49: 13)
 
Kalaupun Abu Sufyan dan kawan-kawannya masih bertahan dengan kepercayaan leluhur mereka, bukanlah hal itu karena dilandasi oleh iman atau kebenaran yang ada, tapi karena mereka sudah terlalu mencintai pada cara lama yang mereka adakan itu. Kemudian nasib membantu mereka pula. Mereka bertahan hanya karena kedudukan dan harta yang sudah berlimpah-limpah, dan untuk itu pula mereka bertempur mati-matian.

Di samping kecenderungan ini juga karena rasa dengki dan persaingan yang keras membuat Quraisy tidak mau menjadi pengikut Nabi. Sebelum kedatangan Muhammad, Umayya b. Abi’sh-Shalt memang termasuk salah seorang yang pernah bicara tentang seorang nabi yang akan tampil di tengah-tengah masyarakat Arab itu, dan dia sendiri berhasrat sekali ingin jadi nabi. Perasaan dengki itu rasa membakar jantungnya tatkala ternyata kemudian wahyu tidak datang kepadanya. Jadi dia tidak mau menjadi pengikut orang yang dianggapnya saingannya. Apalagi, karena (sebagai penyair) sajak-sajaknya penuh berisi pikiran, sehingga pernah suatu hari Nabi .a.s. menyatakan ketika sajaknya dibacakan di hadapannya: “Umayya, sajaknya sudah beriman, tapi hatinya ingkar.”

Atau seperti kata al-Walid bin’l-Mughira: “Wahyu didatangkan kepada Muhammad, bukan kepadaku, padahal aku kepala dan pemimpin Quraisy. Juga tidak kepada Abu Mas’ud ‘Amr b. ‘Umair ath-Thaqafi sebagai pemimpin Thaqif. Kami adalah pembesar-pembesar dua kota.”

Untuk itulah firman Tuhan memberi isyarat:

“Dan mereka berkata: ‘Kenapa Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar dari dua kota itu?’ Adakah mereka membagi-bagikan kurnia Tuhanmu? Kamilah yang membagikan penghidupan mereka itu, dalam hidup dunia ini.” (Qur’an 43: 13-32)

Setelah Abu Sufyan, Abu Jahl dan Akhnas selama tiga malam berturut-turut mendengarkan pembacaan Qur’an, seperti dalam cerita di atas, Akhnas lalu pergi menemui Abu Jahl di rumahnya. “Abu’l-Hakam,2 bagaimana pendapatmu tentang yang kita dengar dari Muhammad?” tanyanya kepada Abu Jahl.

“Apa yang kaudengar?” kata Abu Jahl. “Kami sudah saling memperebutkan kehormatan itu dengan Keluarga ‘Abd Manaf. Mereka memberi makan, kamipun memberi makan, mereka menanggung kamipun begitu, mereka memberi kami juga memberi sehingga kami dapat sejajar dan sama tangkas dalam perlumbaan itu. Tiba-tiba kata mereka: “Di kalangan kami ada seorang nabi yang menerima “wahyu dari langit.” Kapan kita akan menjumpai yang semacam itu? Tidak! Kami sama sekali tidak akan percaya dan tidak akan membenarkannya.”

Jadi yang dalam sekali berpengaruh dalam jiwa orang-orang badui itu ialah rasa dengki, saling bersaing dan saling bertentangan. Dalam hal ini salah sekali bila orang mencoba mau menutup mata atau tidak menilainya sebagaimana mestinya. Cukup kalau kita sebutkan saja adanya kekuasaan nafsu yang begitu besar dalam jiwa tiap orang. Untuk dapat mengatasi pengaruh ini memang diperlukan suatu latihan yang cukup panjang, latihan jiwa dengan mengutamakan hukum akal diatas dorongan nafsu, jiwa dan pikiran kita harus cukup tinggi sehingga dapat ia melihat bahwa kebenaran yang datang dari lawan bahkan dari musuh itu, itu jugalah kebenaran yang datang dari kawan karibnya. Ia harus yakin, bahwa dengan kebenaran yang dimilikinya itu kekayaannya sudah lebih besar dari harta karun, dari kebesaran Iskandar (Agung) dan dari kerajaan seorang kaisar. Tidak banyak orang yang dapat mencapai tingkat ini kalau tidak karena Tuhan sudah membukakan hatinya untuk kebenaran itu.

Catatan kaki:
2. Nama panggilan Abu Jahl (A).






6.8. PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI

BAGIAN KETUJUH
PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI
[Tulisan 3 Dari 3]

Diluar itu, untuk mencapai tingkat pengertian yang lebih tinggi, orang sudah dibutakan oleh harta benda duniawi, oleh kenikmatan hidup sejenak yang dirasakannya. Untuk kepentingan duniawi itu, untuk memburu saat sejenak itu, mereka berperang dan bertempur. Tak ada sesuatu yang akan dapat menghambat mereka menancapkan kuku dan gigi mereka ke batang leher kebenaran, kebaikan dan pengertian moral yang tinggi itu. Lalu, kesempurnaan yang paling suci artinya itu oleh mereka akan diinjak-injak di bawah telapak kaki yang sudah kotor.

Bagaimana pendapat kita tentang orang-orang Arab Quraisy itu yang melihat Muhammad makin sehari makin banyak pengikutnya? Mereka kuatir, kebenaran yang sudah diproklamirkan itu suatu ketika akan menguasai mereka, akan menguasai orang-orang yang sudah setia kepada mereka, yang lalu akan menjalar sampai kepada orang-orang Arab di seluruh jazirah. Sebelum melakukan itu mereka harus memotong leher orang itu dulu jika dapat mereka lakukan. Lebih dulu mereka harus melakukan propaganda, pemboikotan, blokade, penyiksaan dan kekerasan terhadap musuh-musuh besar mereka itu.

Sebab ketiga keberatan mereka menjadi pengikut Muhammad ialah mereka takut sekali pada hari kebangkitan serta siksa neraka pada Hari Perhitungan kelak. Kita sudah melihat masyarakat yang begitu hanyut dalam hidup bersenang-senang dengan cara yang berlebih-lebihan. Mereka menganggap perdagangan dan riba itu wajar. Bagi orang kaya di kalangan mereka itu tak ada sesuatu yang dipandang hina, yang harus dijauhi. Disamping itu, dengan membawakan sesajen segala kejahatan dan dosa mereka itu sudah dapat ditebus. Seseorang cukup mengadu nasibnya dengan qidh (anak panah) di depan Hubal, sebelum ia melakukan sesuatu tindakan. Tanda yang diberikan oleh anak panah, itulah perintah yang datang dari Hubal. Supaya kejahatan-kejahatan dan dosa-dosanya itu diampuni oleh berhala-berhala, cukup ia menyembelih binatang untuk berhala-berhala itu. Ia dapat dibenarkan melakukan pembunuhan, perampokan, melakukan kejahatan, ia tidak dilarang menjalankan pelacuran selama ia mampu memberi suap kepada dewa-dewa itu berupa kurban-kurban dan penyembelihan-penyembelihan.

Sekarang datang Muhammad membawakan ayat-ayat yang begitu menakutkan, membuat jantung mereka rasakan pecah karena ngerinya, sebab Tuhan selalu mengawasi mereka. Pada Hari Kemudian mereka akan dibangkitkan kembali sebagai kejadian baru, dan bahwa yang akan menjadi penolong mereka hanyalah perbuatan mereka sendiri.

“Apabila datang suara dahsyat yang memekakkan. Tatkala seseorang lari meninggalkan saudaranya. Ibunya dan bapanya. Isterinya dan anak-anaknya. Setiap orang hari itu dengan urusannya sendiri. Wajah-wajah pada hari itu ada yang berseri. Tertawa dan bergembira. Dan ada pula wajah-wajah kelabu pada hari itu. Tertutup kegelapan. Mereka itulah orang-orang yang ingkar, orang-orang yang sudah rusak.” (Qur’an, 80: 33-42)

Dan suara dahsyat itu datang.

“Apabila langit sudah bagaikan hancuran logam. Dan gunung-gunung bagaikan gumpalan bulu. Dan tak akan ada kawan akrab menanyakan kawannya. Padahal mereka menampakkan diri kepada mereka. Ingin sekali orang jahat itu akan dapat menebus diri dari siksaan hari itu dengan memberikan anak-anaknya. Isterinya, saudaranya. Dan keluarganya yang melindunginya. Dan semua yang ada di bumi; kemudian ia hendak menyelamatkan diri. Tidak sekali-kali. Itu adalah api menyala. Lapisan kepalapun tercabut. Dipanggilnya orang yang telah pergi membelakangi dan yang berpaling. Yang telah menyimpan kekayaan dan menyembunyikannya.” (Qur’an, 70: 8-18)

“Hari itulah kamu dihadapkan akan diadili. Perbuatanmu takkan ada yang tersembunyi. Barangsiapa yang suratnya diberikan kepadanya dengan tangan kanan, ia akan berkata ini dia! Bacakan suratku. Sudah percaya benar aku bahwa aku akan nmenemui perhitungan. Lalu ia berada dalam kenikmatan hidup. Dalam taman yang tinggi. Buah-buahannyapun dekat sekali. Makanlah, dan minumlah sepuas hati, sesuai dengan amalmu yang kamu sediakan masa lampau. Tetapi, barangsiapa yang suratnya diberikan dengan tangan kiri, ia akan berkata: Ah, coba aku tidak diberi surat! Dan tidak lagi aku mengetahui, bagaimana perhitunganku! Ah, sekiranya aku mati saja. Kekayaanku tidak dapat menolong aku. Hancurlah sudah kekuasaanku. Sekarang bawalah dia dan belenggukan. Sesudah itu, campakkan ia kedalam api neraka. Lalu masukkan ia ke dalam mata rantai, panjangnya tujuhpuluh hasta. Tadinya ia tiada beriman kepada Tuhan yang Maha Agung. Dan tiada pula mendorong memberikan makanan kepada orang miskin. Maka, sekarang disini tak ada lagi kawan setianya. Tiada makanan baginya selain daripada kotoran. Yang hanya dimakan oleh mereka yang penuh dosa.” (Qur’an, 69: 18-37)

Sudahkah orang membacanya? Sudahkah mendengarnya? Tidakkah merasa ngeri, merasa takut? Ini hanya sebahagian kecil dari yang pernah diperingatkan Muhammad kepada masyarakatnya. Kita membacanya sekarang, dan sebelum itupun sudah pula membacanya, mendengarnya, berulang kali. Segala gambaran neraka yang terdapat dalam Qur’an hidup lagi dalam pikiran kita, ketika kita membacanya kembali.

“... Setiap kulit-kulit mereka itu sudah matang, Kami ganti dengan kulit lain lagi, supaya siksaan itu mereka rasakan.” (Qur’an, 4: 56)

Dengan merasakan adanya kengerian itu, orang akan mudah memperkirakan betapa sebenarnya perasaan Quraisy dan terutama orang-orang kayanya, tatkala mendengarkan kata-kata semacam itu, sebab sebelum mereka mendapat peringatan tentang siksa, mereka sudah merasa dirinya jauh dan aman dari itu, dalam lindungan dewa-dewa dan berhala-berhala mereka.

Juga sesudah itu orang akan mudah pula memperkirakan betapa meluapnya semangat mereka mendustakan Muhammad, mengadakan tantangan dan penghinaan. Mereka memang tidak pernah mengenal arti Hari Kebangkitan, juga mereka tidak pernah mengakui apa yang didengarnya itu. Tidak ada diantara mereka itu yang membayangkan, bahwa setelah orang meninggalkan hidup ini, ia akan mendapat balasan atas segala perbuatan selama hidupnya. Tetapi apa yang mereka takutkan dalam hidup mereka pada hari kemudian itu, ialah mereka takut akan penyakit, takut akan mengalami bencana pada harta benda, pada turunan, kedudukan dan kekuasaannya. Hidup sekarang ini bagi mereka ialah seluruh tujuan hidupnya. Seluruh perhatian mereka hanya tertuju untuk memupuk segala macam kesenangan dan menolak segala macam yang mereka takuti. Bagi mereka hari kemudian ialah masalah gaib yang masih tertutup. Dalam hati mereka sudah merasa bahwa apabila perbuatan mereka itu jahat dunia gaib itu boleh jadi akan mendatangkan bencana kepada mereka. Lalu mereka menantikan adanya alamat baik atau alamat buruk. Segera mereka mengadukan nasib itu dengan permainan anak panah, dengan mengocok batu-batu kerikil dan menolak burung3 serta menyembelih kurban. Semua itu merupakan penangkal terhadap segala yang mereka takuti dalam hidup mereka di kemudian hari.

Sebaliknya, segala yang mengenai adanya balasan sesudah mati, mengenai hari kebangkitan tatkala sangkakala ditiup, mengenai surga yang disediakan untuk mereka yang takwa, neraka untuk mereka yang aniaya, mengenai semua itu memang tak pernah terlintas dalam pikiran mereka.

Pada dasarnya mereka sudah pernah mendengar semua itu dalam agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi mereka belum pernah mendengar dengan gambaran yang begitu kuat dan menakutkan seperti yang mereka dengar melalui wahyu kepada Muhammad itu, dan yang memberi peringatan kepada mereka - akan siksa abadi dalam perut neraka, yang sangat menggamakkan hati karena rasa takut hanya dengan mendengar gambarannya saja - kalau mereka masih juga seperti keadaan itu, bersukaria dan berlumba-lumba memperbanyak harta dengan melakukan penindasan terhadap si lemah, makan harta anak piatu, membiarkan kemiskinan dan melakukan riba secara berlebih-lebihan. Apalagi kalau orang dapat melihat dengan hati nuraninya jalan yang ditempuh manusia dengan langkah yang begitu sempit selama hidupnya menuju mati, sesudah kebangkitan kembali kelak dengan segala suka dan dukanya.

Sebaliknya surga yang dijanjikan Tuhan yang luasnya seperti langit dan bumi, disitu takkan terdengar cakap kosong, juga tak ada perbuatan dosa. Yang ada hanyalah ucapan “selamat.” Segala yang menyenangkan hati, menyedapkan mata itulah yang ada. Tetapi Quraisy menyangsikan semua itu. Dan yang menambah lagi kesangsian mereka karena mereka menginginkan segala yang segera. Mereka ingin melihat kenikmatan itu nyata dalam kehidupan dunia ini. Mereka tidak betah menunggu sampai hari pembalasan, sebab mereka memang tidak percaya pada hari pembalasan itu.

Boleh jadi orang akan merasa heran bagaimana jantung orang-orang Arab itu sampai begitu rapat tertutup tidak mau menerima persepsi hidup akhirat serta balasan yang ada. Padahal perjuangan antara yang baik dengan yang jahat itu sudah berkecamuk dalam sejarah manusia sejak dunia ini berkembang, tak pernah berhenti dan tak pernah diam. Orang-orang Mesir purbakala, ribuan tahun sebelum kerasulan Muhammad melengkapi mayat mereka dengan segala perbekalan untuk keperluan akhirat, dalam kafannya diletakkan pula “Kitab Orang Mati” lengkap dengan nyanyian-nyanyian dan peringatan-peringatan. Pada kuil-kuil mereka dilukiskan pula gambar-gambar timbangan, perhitungan, taubat dan siksaan. Orang-orang India menggambarkan jiwa bahagia itu dalam Nirwana. Sedang penitisan ruh jahat dilukiskan dalam bentuk makhluk-makhluk yang sejak ribuan dan jutaan tahun tersiksa sampai ia ditelan oleh kebenaran, supaya menjadi suci. Kemudian ia kembali lagi melakukan kebaikan, karena ingin mencapai Nirwana.

Juga orang-orang Majusi di Persia. Mereka tidak menolak adanya perjuangan yang baik dan yang jahat, Dewa Gelap dan Dewa Cahaya. Juga agama yang dibawa Musa, agama yang dibawa Kristus, sama-sama melukiskan adanya kehidupan yang kekal, adanya kesukaan Tuhan dan kemurkaanNya. Sekarang orang-orang Arab. Tidakkah semua itu pernah sampai kepada mereka? Mereka adalah pedagang-pedagang yang dalam perjalanan mereka pernah mengadakan hubungan dengan agama-agama itu semua. Bagaimana mereka tidak mengenalnya? Bagaimana tidak mungkin itu akan menimbulkan suatu persepsi khusus pada mereka? Mereka adalah orang-orang pedalaman yang banyak sekali berhubungan dengan alam lepas tak terbatas. Lebih mudah bagi mereka melukiskan ruh-ruh yang terdapat dalam wujud ini, menjelma pada siang hari yang terang menyala atau pada senja menjelang malam gulita. Ruh-ruh yang baik dan yang jahat, ruh-ruh yang mereka anggap bersemayam dalam diri berhala-berhala yang akan mendekatkan mereka kepada Tuhan itu.

Jadi sudah tentu mereka juga mempunyai konsep tentang alam gaib yang ada di sekitar mereka. Akan tetapi, mereka sebagai masyarakat pedagang, jiwa mereka lebih cenderung pada yang nyata saja. Juga karena kegemaran mereka hidup bersenang-senang, minum minuman keras, sama sekali mereka menolak adanya balasan hari kemudian. Apa yang diperoleh orang dalam hidupnya, menurut anggapan mereka, baik atau buruk adalah balasan atas perbuatannya. Dan tak ada balasan lagi sesudah hidup ini. Oleh karena itu wahyu yang berisi peringatan dan berita gembira pada mula kerasulan itu kebanyakannya turun di Mekah; karena ia ingin menyelamatkan ruh mereka, tempat Muhammad diutus itu. Sudah sepatutnya pula bila ia mengingatkan mereka atas dosa dan kesesatan yang telah mereka lakukan itu. Sudah sepatutnya pula bila ia ingin mengangkat mereka dari lembah penyembahan berhala kepada penyembahan Allah Yang Tunggal, Maka Kuasa.

Demi keselamatan rohani keluarga dan umat manusia seluruhnya, Muhammad serta orang-orang yang beriman sudi memikul segala macam siksaan dan pengorbanan, memikul penderitaan rohani dan jasmani, dan kemudian pergi meninggalkan tanah tumpah darah, menjauhi permusuhan sanak-keluarga, yang sepintas-lalu sudah kita lihat di atas. Dan seolah cinta Muhammad makin dalam kepada mereka, makin besar hasratnya ingin menyelamatkan mereka, setiap ia mengalami penderitaan dan siksaan yang lebih besar lagi dari mereka itu. Hari Kebangkitan dan Hari Perhitungan adalah ayat-ayat yang harus diperingatkan kepada mereka guna menolong mereka dari penyakit paganisma dan gelimang dosa yang.menimpa mereka itu. Pada tahun-tahun permulaan itu tiada henti-hentinya wahyu memperingatkan dan membukakan mata mereka.

Sungguhpun begitu mereka tetap gigih tidak mau mengakui, tetap menolak, sampai-sampai mereka terdorong mengobarkan perang mati-matian. Bahaya dan bencana peperangan itu baru padam sesudah Islam mendapat kemenangan, sesudah Allah menempatkannya diatas segala agama.

Catatan kaki:
3. Menolak burung artinya melempari burung dengan batu
kerikil atau mengusirnya dengan suara. Kalau burung terbang ke arah kanan, maka itu alamat buruk.